Rabu, 04 Maret 2015

Kehidupan Pra Sejarah Indonesia



1.      Kehidupan Prasejarah Indonesia
Masa prasejarah adalah zaman dimana belum dikenalnya tulisan. Indonesia juga mengalami masa prasejarah tersebut. Masa Pra Sejarah di Indonesia terbagi menjadi 2 zaman: zaman batu dan zaman logam. Zaman batu terbagi lagi menjadi paleolithikum, mesolithikum, neolithikum, dan megalithikum. Sedangkan zaman logam terbagi menjadi zaman tembaga, perunggu, dan besi. Namun di beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia tidak mengalami zaman tembaga dan langsung memasuki zaman perunggu.
2.      Zaman Batu
Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaannya terbuat dari batu disamping dari kayu dan tulang.
·         Paleolithikum
Paleolithikum disebut juga zaman batu tua. Peralatan dari batu yang amat kasar, menandai permulaan zaman Paleolitikum Tua. Pada masa ini mulai muncul peralatan dari batu yang lebih dikenal dengan tradisi peralatan Oldowan. Karakteristik tradisi alat ini adalah bahwa ia merupakan alat penetak untuk segala keperluan, cara pembuatannya dengan menggunakan system benturan, yaitu memukuli bahan baku dengan batu lain atau memukulkan bahan baku tersebut pada batu besar untuk melepaskan kepingan-kepingannya. Meskipun dalam segi hasil alat penetak ini masih amat kasar, tapi tradisi alat oldowan ini merupakan kemajuan teknologi yang penting bagi Hominida Purba
Ciri-ciri kehidupan pada zaman paleolithikum adalah:
  1. Masyarakatnya belum memiliki rasa estetika (disimpulkan dari kapak genggam yang bentuknya tidak beraturan & bertekstur kasar)
  2. Belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang dimiliki belum dapat digunakan untuk menggemburkan tanah).
  3. Memperoleh makanan dengan cara berburu (hewan) dan mengumpulkan makanan (buah-buahan & umbi-umbian).
  4. Hidup nomaden (jika sumber makanan yang ada di daerah tempat tinggal habis, maka masyarakatnya harus pindah ke tempat baru yang memiliki sumber makanan).
  5. Hidup dekat sumber air (mencukupi kebutuhan minum & karena di dekat sumber air ada banyak hewan & tumbuhan yang bisa dimakan).
  6. Hidup berkelompok (untuk melindungi diri dari serangan hewan buas).
  7. Sudah mengenal api (bedasarkan studi perbandingan dengan Zaman Palaeolithikum di China, dimana ditemukan fosil kayu yang ujungnya bekas terbakar di dalam sebuah gua).
Berdasarkan penemuan fosil manusia purba, jenis manusia purba hidup pada zaman
Paleolitikum adalah:

1.      Pithecanthropus Erectus
2.      Homo Wajakensis
3.      Meganthropus paleojavanicus
4.      Homo Soliensis.
Fosil ini ditemukan di aliran sungai Bengawan Solo.
Artefak pada zaman paleolithikum antara lain:
1.      Kapak genggam (menggali umbi, memotong dan menguliti binatang)
2.      Kapak perimbas (merimbas kayu, memahat tulang, dan sebagai senjata)
3.      Alat-alat dari tanduk rusa (untuk mengorek ubi dan keladi dalam tanah)
4.      Flakes (terbuat dari batu chalcedon untuk mengupas makanan)

·         Mesolithikum
Mesolithikum disebut juga zaman batu tengah. Zaman batu tengah diperkirakan berlangsung 20.000 tahun yang lalu, yaitu selama kala holosen. Dalam zaman ini, alat-alat yang dihasilkan sudah lebih baik karena alat dari batu sudah mulai diupam dan dihaluskan pada bagian tertentu yang diperlukan.

Ciri-ciri kehidupan pada zaman mesolithikum adalah:

1.      Sudah mengenal rasa estetika (dilihat dari peralatannya seperti kapak Sumatra, yang bentuknya sudah lebih beraturan dengan tekstur yang lebih halus dibandingkan kapak gengggam pada Zaman Paleolithikum)
2.      Masih belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang ada pada zaman itu masih belum bisa digunakan untuk menggemburkan tanah)
3.      Gundukan Kjokkenmoddinger yang dapat mencapai tinggi tujuh meter dengan diameter tiga puluh meter ini tentu terbentuk dalam waktu lama, sehingga disimpulkan bahwa manusia pada zaman itu mulai tingggal menetap (untuk sementara waktu, ketika makanan habis, maka harus berpindah tempat, seperti pada zaman Palaeolithikum) di tepi pantai.
4.      Peralatan yang ditemukan dari Abris Sous Roche memberi informasi bahwa manusia juga menjadikan gua sebagai tempat tinggal.

Artefak pada zaman mesolithikum antara lain:
1.      Abris sous roche: Abris sous roche adalah gua atau ceruk di dalam batu karang untuk berlindung, digunakan sebagai tempat  tinggal manusia zaman prasejarah.  Pendukung kebudayaan ini adalah manusia papua  melanesoid.
2.      Sampah dapur (Kjokenmoddinger): Sampah dapur ini berwujud kulit siput dan kerang yang menumpuk membentuk bukit selama ribuan tahun sehingga sudah menjadi posil. Pendukung  kebudayaan ini adalah  manusia papua melanesoid
3.      Kapak Sumatra (Pepble): Kapak sumetra terbuat dari batu kali yang di pecah berjenis kapak genggam yang sudah di gosok, walaupun belum halus. Banyak ditemukan di daerah pantai Sumatra timur laut, Antara langsa (Aceh) dan Medan (Sumatra Utara).
4.      Batu pipisan: Batu pipisan berpungsi untuk menggiling makanan dan menghaluskan cat merah (Diperkirakan berkaitan dengan upacara kepercayaan). Batu pipisan terdiri atas batu penggiling dan landasannya

·         Neolithikum
Zaman Neolithikum disebut juga zaman batu muda. Zaman batu muda diperkirakan berlangsung kira-kira tahun 2000 SM. Perkembangan kebudayaan pada zaman ini sudah sangat maju. Dalam zaman ini, alat yang dihasilkan sudah bagus. Meskipun masih terbuat dari batu, tetapi pada semua bagiannya telah dihaluskan dan persebarannya telah merata di seluruh Indonesia.
Ciri-ciri kehidupan zaman neolithikum adalah:
1.       Sudah dapat bercocok tanam (food producing), namun masih terdapat kebudayaan berburu dan meramu
2.       Sedenter (Sudah menetap)
3.       Alat-alat nya berasal dari batu yang sudah dihaluskan
Pada zaman ini mulai muncul homo sapiens dan bangsa Proto Melayu. Seperti suku Nias, suku Toraja, suku Sasak dan Suku Dayak.
Artefak pada zaman neolithikum antara lain:
  1. Kapak persegi, misalnya beliung, pacul, dan torah yang banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan,
  2. Kapak batu (kapak persegi berleher) dari Minahasa.
  3. Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah) ditemukan di Jawa,
  4. Pakaian dari kulit kayu
  5. Tembikar (periuk belaga) ditemukan di Sumatera, Jawa, Melolo (Sunda)

·         Megalithikum
Antara zaman neolitikum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalithikum, yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalithikum justru pada zaman logam.
Ciri-ciri kehidupan pada zaman megalithikum:
1.      Menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya
2.      Mulai mengenal kepercayaan (animism, dinamisme, totemisme)
3.      Food producing, sudah tidak berburu dan meramu
Artefak pada zaman megalithikum antara lain:
  1. Menhir: tugu batu yang dibangun untuk pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang.
  2. Dolmen: meja batu tempat meletakkan sesaji untuk upacara pemujaan roh nenek moyang
  3. Sarchopagus/keranda atau peti mati (berbentuk lesung bertutup)
  4. Punden berundak: tempat pemujaan bertingkat
  5. Kubur batu: peti mati yang terbuat dari batu besar yang dapat dibuka-tutup
  6. Arca/patung batu: simbol untuk mengungkapkan kepercayaan mereka
C. Zaman Logam
Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman sejarah.
·         Perunggu
Pada zaman Perunggu/disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tongkin China (pusat kebudayaan ini) manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras
Ciri-ciri kehidupan pada zaman perunggu:
1.      Sudah mengetahui tentang pertukangan sederhana
2.      Banyak digunakan peralatan yang terbuat dari perunggu
3.      Sudah memiliki upacara keagamaan
Artefak pada zaman perunggu antara lain:
  1. Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, Irian
  2. Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin. Ditemukan di Sumatera, Jawa-Bali, Sumbawa, Roti, Selayar, Leti
  3. Benjana Perunggu ditemukan di Madura dan Sumatera.
  4. Arca Perunggu ditemukan di Bang-kinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat)

·         Besi
Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.
Ciri-ciri kehidupan pada zaman besi:
1.      Peralatan sudah terbuat dari besi
2.      Semakin berkembangnya tekhnik perundagian
3.      Sudah mengenal tekhnik a cire perdue
4.      Alat yang dihasilkan cenderung berupa senjata
Artefak pada zaman besi antara lain:
  1. Mata Kapak bertungkai kayu
  2. Mata Pisau
  3. Mata Sabit
  4. Mata Pedang
  5. Cangkul
Alat-alat tersebut ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor (Jawa Barat), Besuki dan Punung (Jawa Timur)

Selasa, 03 Maret 2015



Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari (1222 M – 1293 M) terletak di wilayah pegunungan di sekitar Malang, Jawa Timu dan termasuk kerajaan yang besar di Jawa Timur. Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 M. Kerajaan ini beribu kota di Tumapel yang terletak di kawasan bernama Kutaraja. Pada awalnya, Tumapel hanyalah sebuah wilayah kabupaten yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Kediri dengan bupati/akuwu bernama Tunggul AmetungSaat itu Ken Arok merupakan pengawal Tunggul Ametug. Ke]arena tertarik pada Ken Dedes, istri Tunggul Ametung Ken Arok pun membunuh Tunggul Ametung menggunakan keris buatan Mpu Gandring. Keri situ ia dapatkan dengan merebutnya dari Mpu andring dan menyebabkan Mpu Gandring terbunuh. Sebelum meninggal, Mpu Gndring memberikan keturunan bahwa Ke Arok dan keturunannya hingga 7 turunan akan mati oleh keris itu.
  
Keberadaan Kerajaan Singosari dibuktikan melalui candi-candi yang banyak ditemukan di Jawa Timur dari daerah Singosari sampai Malang, juga melalui kitab sastra peninggalan zaman Majapahit yang berjudul Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang menjelaskan tentang raja-raja yang memerintah di Singosari serta kitab Pararaton yang juga menceritakan riwayat Ken Arok yang penuh keajaiban. Kitab Pararaton isinya sebagian besar adalah mitos atau dongeng tetapi dari kitab Pararatonlah asal usul Ken Arok menjadi raja dapat diketahui. Sebelum menjadi raja, Ken Arok berkedudukan sebagai Akuwu (Bupati) di Tumapel menggantikan Tunggul Ametung yang dibunuhnya, karena tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung. Selanjutnya ia berkeinginan melepaskan Tumapel dari kekuasaan kerajaan Kediri yang diperintah oleh Kertajaya. Keinginannya terpenuhi setelah kaum Brahmana Kediri meminta perlindungannya. Dengan alasan tersebut, maka tahun 1222 M /1144 C Ken Arok menyerang Kediri, sehingga Kertajaya mengalami kekalahan pada pertempuran di desa Ganter. Ken Arok yang mengangkat dirinya sebagai raja Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Sumber sejarahnya yang lain adalah  Kitab Kidung Serat Arok yang berisi riwayat Ken Arok, Prasasti Pakis Wetan tentang penobatan kertanegara dan juga berita dari CIna yang berisi mengenai Kaisar Kubilai Khan yang akan menyerang Singasari.

Ada dua versi yang menyebutkan silsilah kerajaan Singasari alias Tumapel ini. Versi pertama adalah versi Pararaton yang informasinya didapat dari Prasasti Kudadu. Pararaton menyebutkan Ken Arok adalah pendiri Kerajaan Singasari yang digantikan oleh Anusapati (1247–1249 M). Anusapati diganti oleh Tohjaya (1249–1250 M), yang diteruskan oleh Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250–1272 M). Terakhir adalah Kertanegara yang memerintah sejak 1272 hingga 1292 M. Sementara pada versi Negarakertagama, raja pertama Kerajaan Singasari adalah Rangga Rajasa Sang Girinathapura (1222–1227 M). Selanjutnya adalah Anusapati, yang dilanjutkan Wisnuwardhana (1248–1254 M). Terakhir adalah Kertanagara (1254–1292 M). Data ini didapat dari prasasti Mula Malurung.

1. Ken Arok (1222–1227 M)
Ken Arok merupakan raja pertama Singasari dengan gelar Sri Rangga Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindrawangsa). Ken Arok memerintah selama lima tahun mulai tahun 1222 M hingga1227 M. Pada tahun 1227 M, Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok) menggunakan Keris buatan Mpu Gandring. Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa–Buddha.

2. Anusapati (1227–1248 M)
Dengan meninggalnya Ken Arok maka takhta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahaannya selama 20 tahun, Anusapati tidak banyak melakukan pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung ayam. Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra Ken Arok dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam sehingga diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa (tempat kediamanan Tohjoyo) untuk mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo menyabut keris buatan Mpu Gandring yang dibawanya dan langsung menusuk Anusapati. Dengan demikian, meninggallah Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.

3. Tohjoyo (1248 M)
Kerajaan pun dipimpin oleh Tohjoyo Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati yang bernama Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki singgasana.

4. Ranggawuni (1248–1268 M)
Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 M dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Ppemerintahan Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari. Pada tahun 1254 M Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuwaraja (raja muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan Singasari. Pada tahun 1268 Wisnuwardana meninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan
di Candi Waleri sebagai Siwa.

5. Kertanegara (1268-1292 M)
Kertanegara adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita untuk menyatukan seluruh Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang mahamentri, yaitu mahamentri i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri i sirikan. Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiraraja. Setelah Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain. Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu 1275 yang dipimpin oleh Adityawarman dan berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini ditandai dengan pengirimkan Arca Amoghapasa ke Dharmasraya atas perintah Raja Kertanegara.

Selain menguasai Melayu, Singasari juga menaklukan Pahang, Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat), dan Gurun (Maluku). Kertanegara juga menjalin hubungan persahabatan dengan raja Campa,dengan tujuan untuk menahan perluasaan kekuasaan Kubilai Khan dari Dinasti Mongol. Kubilai Khan menuntut raja-raja di daerah selatan termasuk Indonesia mengakuinya sebagai yang dipertuan. Kertanegara menolak dengan melukai muka utusannya yang bernama Meng Chi. Tindakan Kertanegara ini membuat Kubilai Khan marah besar dan bermaksud menghukumnya dengan mengirimkan pasukannya ke Jawa. Mengetahui sebagian besar pasukan Singasari dikirim untuk Ekspedisi Pamalayu dan untuk menghadapi serangan Mongol maka atas usulan dari Aria Wiraraja(Adipati Sumenep) yang merupakan penentang politik Kertanegara, Jayakatwang (Kediri) segera menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Singasari. Serangan dilancarakan dari dua arah, yakni dari arah utara merupakan pasukan pancingan dan dari arah selatan merupakan pasukan inti.

Pasukan Kediri dari arah utara dipimpin oleh Jaran Guyang, Kertanegara mengutus Raden Wijaya dan Ardharaja untuk melawan pasukan Jaran Guyang. Pasukan Jaran Guyang pun berhasil dikalahkan. Sementara pasukan Kediri dari arah selatan dipimpin Patih Mahisa Mundarang dan berhasil masuk istana dan menemukan Kertanegara berpesta pora dengan para pembesar istana. Kertanegara beserta pembesar-pembesar istana tewas dalam serangan tersebut. Ardharaja(menantu Kertanegara, anak dari Jayakatwang) berbalik memihak kepada ayahnya, sedangkan Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dan menuju Madura dengan maksud minta perlindungan dan bantuan kepada Aria Wiraraja. Atas bantuan Aria Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada Jayakatwang. Raden Wijaya diberi sebidang tanah yang bernama Tanah Tarik oleh Jayakatwang untuk ditempati. Dengan gugurnya Kertanegara maka Kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang. Ini berarti berakhirnya kekuasan Kerajaan Singasari. Sesuai dengan agama yang dianutnya, Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa––Buddha (Bairawa) di Candi Singasari. Arca perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog yang sekarang berada di Taman Simpang, Surabaya

Dari segi sosial, kehidupan masyarakat Singasari mengalami masa naik turun. Ketika Ken Arok memerintah sebagai awuku di tumapel, ia sangat memperhatikan dan meningkatkan kehidupan masyarakatnya sehingga banyak daerah yang ingin bergabung dengan tumapel. Namun saat masa pemerintahan Anusapati, masyarakat kurang mendapat perhatian karena kegemarannya menyabung ayam. Untugnya pada masa pemeritahan Wisuwardhana ia kembali memperhatikan rakyat dan berusaha merapikannya. Pada masa Kertanegara, ia semakin meningkatkan taraf kehidupan masyarakatnya melalui politik dalam negeri dan luar negeri.

Politik Dalam Negeri:
·         Mengadakan pergeseran pembantu-pembantunya seperti Mahapatih Raganata digantikan oleh Aragani, dll.
·         Berbuat baik terhadap lawan-lawan politiknya seperti mengangkat putra Jayakatwang (Raja Kediri) yang bernama Ardharaja menjadi menantunya.
·         Memperkuat angkatan perang.

Politik Luar Negeri:
·         Melaksanakan Ekspedisi Pamalayu untuk menguasai Kerajaan melayu serta melemahkan posisi Kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka.
·         Menguasai Bali.
·         Menguasai Jawa Barat.
·         Menguasai Malaka dan Kalimantan.

Berdasarkan segi ekonominya, walaupun tidak ada keterangan yang jelas, namun ada kemungkinan masyarakat singosari mengandalkan pertanian dan perdagangan. Hal ini didasari karena Singasari berada di wilayah yang subur dengan sungai Brantas dan Bengawan Solo di dekatnya yang bisa digunakan untuk jalur perdagangan.

Berdasarkan segi budaya, banyak ditemukan candi-candi dan patung-patung diantaranya candi Kidal, candi Jago, dan candi Singasari. Sedangkan patung-patung yang ditemukan adalah patung Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita lambang kesempurnaan ilmu, patung Kertanegara dalam wujud patung Joko Dolog, dan patung Amogaphasa juga merupakan perwujudan Kertanegara (kedua patung Kertanegara baik patung Joko Dolog maupun Amoghapasa menyatakan bahwa Kertanegara menganut agama Buddha beraliran Tantrayana).

Kerajaan Singasari bisa dikatakan berlangsung singkat. Hal ini disebabkan banyaknya perebutan kekuasaan di lingkup istana. Hingga akhirnya pada tahun 1292, Jayakatwang bupati Gelang-Gelang (Kediri), yang merupakan sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan dari Kertanegara sendiri melakukan serangan pemberontakan. Dalam serangan itu Kertanegara mati terbunuh. Setelah runtuhnya Singasari, Jayakatwang pun menjadi raja dan membangun ibu kota baru di Kediri.

Sumber:
Sejarahbudayanusantara.weeby.com
Sejarah Indonesia untuk SMA-MA/SMK kelas X